Wisata gunung, aku lebih suka menyebutnya, ditengah-tengah hangatnya foto-foto pelancong yang menjadikan gunung sebagai pilihan destinasi alternatif, timbulah berbagai macam opini publik, dari mulai sorak sorai ikut dalam keramaian, sekedar posting sindiran, sampai ada yang mencela keramaian digunung dg gaya akuanya.
Merekalah pendaki musiman, turis dadakan biar bisa mengucap “My Pict My Selfie” atau apalah yang umumnya diucapkan. Saat musim liburan berbaurlah semua pendaki yang mengatasnamakan dirinya pendaki sejati, penikmat alam, pengisi waktu luang, dan bahkan yang dicap perusak lingkungan sekalipun, semuanya berbaur dan membentuk fenomena baru yang sering aku sebut ‘wisatawan gunung’.
Ditengah gagap gembita dan aksi jor-joran pihak berwenang yang sering menambah kuota saat liburan panjang, problem klasik masalah sampah tercipta atau sengaja diciptakan oleh oknum wisatawan yang minim edukasi, munculah embrio semangat para pejuang konservasi sebagai kubu penyeimbang dari aktivitas wisatawan gunung yang semakin tak terkendali.
Kelompok-kelompok aktivis muncul bak satria piningit dalam lakon pewayangan, atau ksatria super dalam tokoh idola remaja masakini. Tindakan nyata mereka ‘pamerkan’ untuk mengajak dan mengedukasi para wisatawan minim ilmu supaya lebih sadar diri dalam melakukan aktivitas nya dialam bebas, ‘Tempat Bermainku’ begitu mereka menyebutnya.
Namun manusia tetaplah manusia, sebagus apapun wadah pengayomnya tetaplah ada kekuranganya. Aksi bersih atau tanam pohon seringkali dijadikan bahan bully kepada siapapun yg menurut mereka gagal faham saat berwisata dialam bebas. Ditengah aktivis sejati mengedukasinya dg penuh bijak dan santun, oknum berbendera sosial ini mengunakan gaya keakuanya untuk menyalahkan dan membuat gaduh media sosial.
Jika sudah seperti itu, apakah masih bisa dibilang peduli, bila yang mereka lakukan hanya untuk mengkambinghitamkan wisatawan lain, yang seharusnya bersama-sama kita beri edukasi yang mendidik. ‘Hura-hura ego berlabel sosial’ mungkin kalimat praktis buat siapapun yang masih menunggang tenar pada sekelompok aktivis sejati yang dengan tegus menjaga keseimbangan ekosistem alam.
Tolong jangan kotori jeri payah mereka, jadilan wisatawan yang santun, tak perlu menempel stiker dengan slogan keren, namun menempatkanya bukan pada yang semestinya. Bijaklah dalam berbuat, santunlah dalam bertutur kata. Pohon bisa ditanam, jejak bisa dihapun,namun tidak untuk sakit hati yang kau timbulkan kepada wisatawan minim ilmu yang kalian cap sebagai perusak alam.
Salam Lestari,
Edukasi itu penting, namun tetap dalam porsi yang mendidik.